Team Program 'Masjid Gaharu' Kota Depok
1.Ganif Aswoko , email: aswokoganif@gmail.com
2.Taqyuddin SSi MHum , email: taqygeo@gmail.com
2.Taqyuddin SSi MHum , email: taqygeo@gmail.com
Sabtu, September 04, 2010
Gaharu : Pohon Eksklusif Akan Diproduksi secara Lestari di Indonesia
Indonesia merupakan negara produsen gaharu terbesar di dunia dengan kualitas terbaik. Pohon-pohon gaharu penghasil gubal (bagian terdalam dari batang pohon gaharu yang warnanya hitam, coklat hitam, coklat kemerahan dengan keharuman yang kuat) terbaik yang sangat sesuai dengan kondisi produksi alami di Indonesia mungkin sudah punah. Yang tertinggal adalah pohon-pohon yang memiliki sifat kerentanan yang lebih tinggi.
Gaharu merupakan komoditi elit hasil hutan bukan kayu yang saat ini diminati oleh konsumen baik dalam maupun luar negeri. Gaharu atau agarwood, aleawood, eaglewood dan jinkoh memiliki nilai jual tinggi. Kelangkaan pohon gaharu di hutan alam menyebabkan perdagangan gaharu asal semua spesies Aqularia dan Grynops di atur dalam CITES (Convention on International trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) dan ekspornya dibatasi dalam kuota.
Saat ini, Indonesia diposisikan untuk mengambil peran aktif dalam menyelamatkan produksi gaharu dengan mengalihkan produksi gaharu alam ke gaharu buatan. Dengan demikian di masa yang akan datang, Indonesia akan memasuki era gaharu budidaya atau mengambil kata yang lebih popular gaharu “non-CITES quota”.
Dengan mengambil tema “Menuju Produksi Gaharu secara Lestari di Indonesia”, Fakultas Kehutanan dan Fakultas MIPA IPB bekerjasama dengan Departemen Kehutanan RI dan didukung oleh Sinarmas Forestry, Perhutani, International Timber Trade Organization, Asgarin dan Yayasan Kehati menggelar Seminar Nasional I Gaharu di IPB International Convention Center (12/11). Tema ini diambil sebagai ekspresi dari keprihatinan masyarakat pemerhati gaharu terhadap tuntutan dunia akan pentingnya produksi gaharu yang lestari di Indonesia.
Hadir dalam acara ini, Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, SE, MM, untuk membuka acara, didampingi Wakil Rektor bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB, Prof.Dr.Ir. Yonny Koesmaryono, Dekan Fakultas Kehutanan IPB, Dr. Hendrayanto, Dekan Fakultas MIPA IPB, Dr. Hasim, pejabat dari Dephut RI, peneliti, dan pemerhati gaharu Indonesia.
Menhut mengatakan kekayaan alam Indonesia harus kita lestarikan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. “Selama ini bagi hasil dari produksi gaharu selalu merugikan petani gaharu. Misal dari hasil penjualan gaharu 40% untuk pemilik modal, 20% untuk pemberi ijin, sisanya untuk proses produksi dan petani. Ini tidak akan mensejahterakan rakyat,” tambahnya.
Mengingat pengumpul gaharu alami adalah penduduk penghuni sekitar hutan, maka sistem produksi yang akan dikembangkan sebaiknya berbasis masyarakat tepian hutan. Oleh sebab itu tata kelola wilayah yang memberikan insentif pada masyarakat tepian hutan perlu dipertimbangkan.
“Pohon gaharu pasarnya sangat besar. Gaharu yang mengandung “damar wangi” dan bila dibakar mengeluarkan aroma yang khas dapat diolah menjadi minyak gaharu, cindera mata, dupa makmul dan hio, parfum, obat-obatan dan untuk bahan kosmetik. Negara-negara dengan jumlah penduduk yang besar seperti China, India, Pakistan, Bangladesh, Thailand adalah pasar gaharu. Sehingga gaharu perlu dilestarikan dan yang mengembangkannya harus pakar-pakar dari IPB,” ujarnya saat diwawancara.
Sejak tahun 2003, kuota ekspor gaharu menurun terus menjadi sekitar 125 ton/tahun untuk tiap species. Dalam batasan kuota ini, produksi hanya dapat memenuhi sekitar 10-20% permintaan pasar, sehingga peluang pasar masih terbuka.
Menhut menambahkan untuk menjaga kelestarian alam sekaligus keberlanjutan ekspor, selain harus dikonservasi, gaharu juga harus diproduksi secara buatan pada pohon gaharu hasil budidaya. Pohon gaharu telah ditanam lebih dari 1750 ha di seluruh Indonesia dan ini menjadi modal dasar menuju produksi gaharu secara lestari di Indonesia.
Sementara itu, produksi gubal gaharu melibatkan mikroorganisme (sejenis cendawan yakni fusarium dan acremonium). Mekanisme pembentukan oleo resin (damar wangi) gaharu merupakan hasil interaksi antara pohon dan mikroorganisme tadi.
Dengan proses budidaya, petani menyuntikkan cendawan ke batang pohon gaharu saat umurnya menginjak lima tahun. Dari infeksi cendawan tersebut, pohon gaharu melakukan perlawanan dengan mengeluarkan senyawa oleo resin.
Satu kilogram gubal gaharu dengan kualitas terbaik dijual dengan harga 30 juta rupiah. Gaharu jenis Aquilaria malaccensis daerah penyebarannya di Sumatera (10 pohon/ha) dan Kalimantan (9 pohon/ha). Untuk jenis Aquilaria filarial daerah penyebarannya di Papua (60 pohon/ha), Maluku (30 pohon/ha) dan Sulawesi (7 pohon/ha). Dan untuk jenis Gyrinops sp daerah penyebarannya di NTB (8 pohon/ha) dan NTT (7 pohon/ha).
Dikutip dari: http://asahangaharu.blogspot.com/
Gaharu merupakan komoditi elit hasil hutan bukan kayu yang saat ini diminati oleh konsumen baik dalam maupun luar negeri. Gaharu atau agarwood, aleawood, eaglewood dan jinkoh memiliki nilai jual tinggi. Kelangkaan pohon gaharu di hutan alam menyebabkan perdagangan gaharu asal semua spesies Aqularia dan Grynops di atur dalam CITES (Convention on International trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) dan ekspornya dibatasi dalam kuota.
Saat ini, Indonesia diposisikan untuk mengambil peran aktif dalam menyelamatkan produksi gaharu dengan mengalihkan produksi gaharu alam ke gaharu buatan. Dengan demikian di masa yang akan datang, Indonesia akan memasuki era gaharu budidaya atau mengambil kata yang lebih popular gaharu “non-CITES quota”.
Dengan mengambil tema “Menuju Produksi Gaharu secara Lestari di Indonesia”, Fakultas Kehutanan dan Fakultas MIPA IPB bekerjasama dengan Departemen Kehutanan RI dan didukung oleh Sinarmas Forestry, Perhutani, International Timber Trade Organization, Asgarin dan Yayasan Kehati menggelar Seminar Nasional I Gaharu di IPB International Convention Center (12/11). Tema ini diambil sebagai ekspresi dari keprihatinan masyarakat pemerhati gaharu terhadap tuntutan dunia akan pentingnya produksi gaharu yang lestari di Indonesia.
Hadir dalam acara ini, Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, SE, MM, untuk membuka acara, didampingi Wakil Rektor bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB, Prof.Dr.Ir. Yonny Koesmaryono, Dekan Fakultas Kehutanan IPB, Dr. Hendrayanto, Dekan Fakultas MIPA IPB, Dr. Hasim, pejabat dari Dephut RI, peneliti, dan pemerhati gaharu Indonesia.
Menhut mengatakan kekayaan alam Indonesia harus kita lestarikan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. “Selama ini bagi hasil dari produksi gaharu selalu merugikan petani gaharu. Misal dari hasil penjualan gaharu 40% untuk pemilik modal, 20% untuk pemberi ijin, sisanya untuk proses produksi dan petani. Ini tidak akan mensejahterakan rakyat,” tambahnya.
Mengingat pengumpul gaharu alami adalah penduduk penghuni sekitar hutan, maka sistem produksi yang akan dikembangkan sebaiknya berbasis masyarakat tepian hutan. Oleh sebab itu tata kelola wilayah yang memberikan insentif pada masyarakat tepian hutan perlu dipertimbangkan.
“Pohon gaharu pasarnya sangat besar. Gaharu yang mengandung “damar wangi” dan bila dibakar mengeluarkan aroma yang khas dapat diolah menjadi minyak gaharu, cindera mata, dupa makmul dan hio, parfum, obat-obatan dan untuk bahan kosmetik. Negara-negara dengan jumlah penduduk yang besar seperti China, India, Pakistan, Bangladesh, Thailand adalah pasar gaharu. Sehingga gaharu perlu dilestarikan dan yang mengembangkannya harus pakar-pakar dari IPB,” ujarnya saat diwawancara.
Sejak tahun 2003, kuota ekspor gaharu menurun terus menjadi sekitar 125 ton/tahun untuk tiap species. Dalam batasan kuota ini, produksi hanya dapat memenuhi sekitar 10-20% permintaan pasar, sehingga peluang pasar masih terbuka.
Menhut menambahkan untuk menjaga kelestarian alam sekaligus keberlanjutan ekspor, selain harus dikonservasi, gaharu juga harus diproduksi secara buatan pada pohon gaharu hasil budidaya. Pohon gaharu telah ditanam lebih dari 1750 ha di seluruh Indonesia dan ini menjadi modal dasar menuju produksi gaharu secara lestari di Indonesia.
Sementara itu, produksi gubal gaharu melibatkan mikroorganisme (sejenis cendawan yakni fusarium dan acremonium). Mekanisme pembentukan oleo resin (damar wangi) gaharu merupakan hasil interaksi antara pohon dan mikroorganisme tadi.
Dengan proses budidaya, petani menyuntikkan cendawan ke batang pohon gaharu saat umurnya menginjak lima tahun. Dari infeksi cendawan tersebut, pohon gaharu melakukan perlawanan dengan mengeluarkan senyawa oleo resin.
Satu kilogram gubal gaharu dengan kualitas terbaik dijual dengan harga 30 juta rupiah. Gaharu jenis Aquilaria malaccensis daerah penyebarannya di Sumatera (10 pohon/ha) dan Kalimantan (9 pohon/ha). Untuk jenis Aquilaria filarial daerah penyebarannya di Papua (60 pohon/ha), Maluku (30 pohon/ha) dan Sulawesi (7 pohon/ha). Dan untuk jenis Gyrinops sp daerah penyebarannya di NTB (8 pohon/ha) dan NTT (7 pohon/ha).
Dikutip dari: http://asahangaharu.blogspot.com/
Minggu, Juli 25, 2010
Bidang Organisasi Dan Idaroh
Bidang Organisasi dan Idaroh telah melaksanakan pembentukan Pengurus.
Di Kecamatan Cipayung pada tanggal 14 februari 2010 di Masjid At Taqwa Cipayung dengan terpilihnya Ust. A.Ghoni Djamal SH sebagai ketua DMI Cabang Cipayung masa jabatan 2010 - 2015.
Tanggal 21 februari 2010 Muscab DMI Kec. Sawangan di Masjid Arrahim Sawangan Permai telah terpilih Shalahuddin Al Ayubi MA sebagai Ketua DMI Sawangan periode 2010 - 2015.
Tanggal 17 April Pembentukan DMI Kecamatan Bojongsari di Masjid Al Mujahiddin Bojongsari lama Terpilih Ust. Abdurrahman Hakim N sebagai ketua DMI Cabang Bojongsari Periode 2010 - 2015.
Tanggal 10 Juli 2010 Di Masjid Al Muthmainah Meruyung Muscab DMI Limo Terpilih Ust. Marjaya Sebagai Ketua DMI Cabang Limo Periode 2010 - 2015.
Tanggal 17 Juli 2010 Di Masjid Miftahul Wasliyyah Pondok Tirta Mandala Sukamaju Kecamatan Cilodong dalam Pembentukan Cabang Cilodong telah terpilih H Rahardja sebagai Ketua DMI Cabang Cilodong periode 2010 - 2015.
Tanggal 18 Juli 2010 di Masjid Raya Cinere Dalam Pembentukan DMI Cabang Cinere telah menunggu dari masjid-masjid yang akan gabung jadi belum menentukan ketua DMI Cabang Cinere, harap maklum.
DMI Kota Depok telah menjalin kerjasama dengan Bikers Green Depok yang diketuai Bapak Ir. Bambang Asmarabudi pada tanggal 3 Juni 2010 di Pesantren Hifzil Qur'an Al-Mu'awanah duren seribu dalam mendukung program masjid gaharu Kota Depok dan menyumbang bibit gaharu untuk ditanam di 500 Masjid sekota Depok.
Tiap masjid mendapatkan 10 bibit gaharu dengan tujuan untuk meningkatkan lahan Masjid.
Tanggal 6 Juni 2010 telah diadakan penanaman gaharu di Masjid Ibadurahman Sawangan Lama dengan Bikers Green Depok simbolis 523 bibit Gaharu.
Tanggal 26 Juni 2010 di Masjid Al Hikam untuk Masjid-Masjid sekecamatan Beji simbolis 492 bibit gaharu, pada tanggal 10 Juli 2010 untuk Masjid-masjid sekecamatan Limo simbolis 252 pohon bibit Gaharu, Di Masjid Miftahul Wasliyyah simbolis 10 pohon akan menyusul untuk sekecamatan Cilodong Insyaallah Di Masjid Nurul Huda tgl 1 Agustus 2010 di Komplek Villa Pertiwi. Dan yang belum menunggu jadwal dari Bapak Ir. H Bambang Asmarabudi di Cimanggis, Tapos, Bojongsari, Cinere, Pancoranmas,Sukmajaya, Cipayung.
Semoga Amal Baik dari Bapak Ir. Bambang Asmarabudi Mendapatkan balasan dari Allah dalam menghijaukan Kota Depok sebagai kota Gaharu tahun 2017. DMI Kota Depok siap bekerjasama dengan pihak manapun untuk meningkatkan Ekonomi Masjid. Salam Dari Ketua Bidang Organisasi dan Idaroh DMI Kota Depok (ganif Aswoko)
Di Kecamatan Cipayung pada tanggal 14 februari 2010 di Masjid At Taqwa Cipayung dengan terpilihnya Ust. A.Ghoni Djamal SH sebagai ketua DMI Cabang Cipayung masa jabatan 2010 - 2015.
Tanggal 21 februari 2010 Muscab DMI Kec. Sawangan di Masjid Arrahim Sawangan Permai telah terpilih Shalahuddin Al Ayubi MA sebagai Ketua DMI Sawangan periode 2010 - 2015.
Tanggal 17 April Pembentukan DMI Kecamatan Bojongsari di Masjid Al Mujahiddin Bojongsari lama Terpilih Ust. Abdurrahman Hakim N sebagai ketua DMI Cabang Bojongsari Periode 2010 - 2015.
Tanggal 10 Juli 2010 Di Masjid Al Muthmainah Meruyung Muscab DMI Limo Terpilih Ust. Marjaya Sebagai Ketua DMI Cabang Limo Periode 2010 - 2015.
Tanggal 17 Juli 2010 Di Masjid Miftahul Wasliyyah Pondok Tirta Mandala Sukamaju Kecamatan Cilodong dalam Pembentukan Cabang Cilodong telah terpilih H Rahardja sebagai Ketua DMI Cabang Cilodong periode 2010 - 2015.
Tanggal 18 Juli 2010 di Masjid Raya Cinere Dalam Pembentukan DMI Cabang Cinere telah menunggu dari masjid-masjid yang akan gabung jadi belum menentukan ketua DMI Cabang Cinere, harap maklum.
DMI Kota Depok telah menjalin kerjasama dengan Bikers Green Depok yang diketuai Bapak Ir. Bambang Asmarabudi pada tanggal 3 Juni 2010 di Pesantren Hifzil Qur'an Al-Mu'awanah duren seribu dalam mendukung program masjid gaharu Kota Depok dan menyumbang bibit gaharu untuk ditanam di 500 Masjid sekota Depok.
Tiap masjid mendapatkan 10 bibit gaharu dengan tujuan untuk meningkatkan lahan Masjid.
Tanggal 6 Juni 2010 telah diadakan penanaman gaharu di Masjid Ibadurahman Sawangan Lama dengan Bikers Green Depok simbolis 523 bibit Gaharu.
Tanggal 26 Juni 2010 di Masjid Al Hikam untuk Masjid-Masjid sekecamatan Beji simbolis 492 bibit gaharu, pada tanggal 10 Juli 2010 untuk Masjid-masjid sekecamatan Limo simbolis 252 pohon bibit Gaharu, Di Masjid Miftahul Wasliyyah simbolis 10 pohon akan menyusul untuk sekecamatan Cilodong Insyaallah Di Masjid Nurul Huda tgl 1 Agustus 2010 di Komplek Villa Pertiwi. Dan yang belum menunggu jadwal dari Bapak Ir. H Bambang Asmarabudi di Cimanggis, Tapos, Bojongsari, Cinere, Pancoranmas,Sukmajaya, Cipayung.
Semoga Amal Baik dari Bapak Ir. Bambang Asmarabudi Mendapatkan balasan dari Allah dalam menghijaukan Kota Depok sebagai kota Gaharu tahun 2017. DMI Kota Depok siap bekerjasama dengan pihak manapun untuk meningkatkan Ekonomi Masjid. Salam Dari Ketua Bidang Organisasi dan Idaroh DMI Kota Depok (ganif Aswoko)
Rabu, Mei 19, 2010
Jumat, Februari 19, 2010
SEJARAH AWAL PERDAGANGAN GAHARU DI SUMATERA ( TERTULIS )
Dari keterangan I Tsing, musafir ziarah Budhis, kita ketahui beberapa berita penting mengenai kebudayaan dan perdagangan Sriwijaya. Dalam tahun 671 M ( kira kira tahun 10 H ), musafir itu berangkat dari kanton ke India muka. Pada pelayaran nya, ia sempat tinggal di Sumatera selama delapan bulan. Pada pelayarannya , I Tsing sempat tinggal di Sriwijara empat tahun lamanya ( 685 – 689 M ). Kemudian berangkatlah ia ke Kanton dengan maksud mencari empat orang pembantunya untuk meneruskan pekerjaannya dalam lapangan pengetahuan. Baru pada tahun 695 M ia meninggalkan Sriwijaya dan pulanglah ia ke Tiongkok. Dari dua buah buku besar tulisan nya, bahwa Sriwijaya pada masa jayanya menjadi pusat pengetahuan Budhis. Berabad abad lamanya hal itu berlangsung demikian. Biksu biksu Budhis tidak kurang dari seribu orang jumlahnya. Musafir musafir Tionghoa, yang berziarah ke India muka, seringkali menumpang kapal Melayu, dari Kanton sampai ke India muka. Dengan demikian, jelaslah Sriwijaya mempunyai Angkatan Laut sendiri. Begitu pula di buktikan, bahwa orang Melayu pada zaman itu mengambil bagian dari perdagangan ke India muka dan Tiongkok. Sebagai barang dagangan ada yang disebut: Kapur barus, Gaharu, Kayu Cendana, Cengkeh, Sirih, Pala, Lada, Emas, Perak, dan Timah putih. Oleh penulis penulis sejarah Tiongkok disebut sebut beberapa perutusan dari Sriwijaya ke Tiongkok.
Tulisan ini di kutip dari buku ”Sejarah Kebudayaan Sumatera” tulisan: ” Dada Meuraxa ”.
Terbitan Firma Hasmar Medan tahun 1974.
Tulisan ini di kutip dari buku ”Sejarah Kebudayaan Sumatera” tulisan: ” Dada Meuraxa ”.
Terbitan Firma Hasmar Medan tahun 1974.
Rabu, Februari 10, 2010
Teknik Inokulasi
Fusarium yang di inokulasi ke jaringan pohon itu sebenarnya kuman penyebab penyakit. Oleh karena itu pohon gaharu itu melawan dengan memproduksi resin bernama fitoaleksin supaya kuman tak menyebar ke jaringan pohon lain. Seiring waktu, resin itu mengeras di sudut sudut pembuluh xylem dan floem – organ pohon yang mendistribusikan makanan berwarna kecokelatan, serta harum bila dibakar.
Mengingat jenis isolate penyakit pembentuk gaharu berbeda beda sesuai kondisi iklim dan lingkungan, maka penyedia inokulan perlu melakukan isolasi jenis penyakit yang berprospek memproduksi gaharu. Isolasi ini dilakukan terhadap tanaman gaharu alam yang berada di dalam kawasan hutan sekitar daerah pengembangan. Untuk tujuan tersebut, perlu diawali dengan pengamatan lapangan untuk mempelajari aspek gaharu yang tumbuh alami serta mengisolasi dan mengidentifikasi jenis penyakit dari pohon yang terserang.
Agar berhasil mengembangkan inokulan pembentuk gaharu, diperlukan teknik tertentu. Untuk hal ini, sangat diperlukan peran dari pemerintah daerah instansi atau lembaga terkait, perguruan tinggi, dan investor atau pengusaha swasta didaerah setempat sebagai pelaku produksi inokulan. Adapun tahapan teknik pengembangan inokulan sebagai berikut:
• Pilih pohon gaharu alami yang sudah terinfeksi mikroba penyakit pembentuk gaharu.
• Ambil potongan cabang atau kupasan batang pohon gaharu terpilih. Potongan cabang atau kupasan batang ini disebut “ Preparat ”.
• Bawa preparat tersebut ke Laboratorium dan upayakan agar suhu dan kelembapan nya tetap terjaga dengan cara dimasukkan dalam kotak es.
• Kembangkan spora dari preparat cabang dan atau batang tersebut di dalam media agar untuk diidentifikasi jenis mikrobanya sebagai biakan murni.
• Kembangkan spora dan miselium biakan murni tersebut kedalam media padat seperti serbuk gergaji pohon gaharu atau dalam media cair ang telah berisi unsur makro dan mikro sebagai energi hidup.
• Masukkan media spora kedalam incubator pembiakan dan kondisikan suhu dan kelembapan incubator pembiakan tersebut pada keadaan optimal, yaitu suhu 24 - 32C dan kelembapan 80%. Biarkan sekitar 1 – 2 bulan.
• Tempatkan spora yang sdah dibiakkan tersebut kedalam wadah berupa botol kaca, botol plastic, atau botol infuse bekas.
• Simpan botol dalam freezer incubator. Inokulan ini sudah siap diinokulasikan ke tanaman gaharu. Teknik inokulasi dengan inokulan terhadap pohon gaharu berbeda beda sesuai dengan bentuk inokulannya. Pada pelaksanaan penginokulasian terhadap pohon gaharu ini, harus diperhatikan umur dan diameter batangnya. Batas minimal suatu pohon dapat di inokulasi ditandai dengan pohon yang mulai berbunga. Biasanya umur tanaman tersebut sekitar 4 – 5 tahun atau diameter batang sudah mencapai 8 – 10 cm. Berikut diulas teknik inokulasi menggunakan inokulan padat dan cair.
Inokulasi dengan inokulan padat.
Teknik inokulasi pohon gaharu menggunakan inokulan padat dilaksanakan dengan cara sebagai berikut:
• Buat lubang pada batang kayu gaharu dengan menggunakan bor. Diameter lubang bor sekitar 0,8 – 10 mm. Kedalaman optimal pemboran ini perlu disesuaikan dengan ukuran diameter batang, biasanya sekitar 5 cm. Setiap batang dibuatkan banyak lubang dengan jarak antar lubang bor sekitar 20 cm.
• Bersihkan tangan pelaku inokulasi dengan air hingga bersih dan dibilas dengan alcohol sebelum pelaksanaan inokulasi.
• Masukkan inokulasi padat ke setiap lubang. Jumlah inokulan disesuaikan dengan kedalaman lubang. Sebagai patokan, pemasukan ini dilakukan hingga lubang terisi penuh dengan inokulan. Agar pemasukan menjadi mudah, gunakan potongan kayu atau bamboo yang ukurannya sesuai dengan ukuran diameter lubang.
• Tutup setiap lubang yang sudah diberi inokulan untuk mnghindari masuknya air ke dalam lubang. Penutupan lubang ini dilakukan dengan pasak kayu gaharu. Penutupan pun dapat dilakukan dengan “lili malam”
Inokulasi dengan inokulan cair.
Teknik inokulasi menggunakan inokulan cair dilaksanakan dengan cara sebagai berikut:
• Lakukan pengeboran pada pangkal batang pohon dengan posisi miring kebawah. Kedalaman pemboran disesuaikan dengan diameter batang pohon, biasanya 1/3 diameter batang. Sementara mata bor yang digunakan berukuran sama dengan selang infus sekitar 0,5 cm. Selang infuse tersebut biasanya sudah disediakan produsen inokulan pada saat pembelian inokulan. Namun, bila belum tersedia, selang infuse dapat disediakan sendiri oleh petani.
• Masukkan selang infus yang ada pada botol inokulan cair kedalam lubang.
• Atur besarnya aliran inokulan cair tersebut. Hentikan aliran infuse bila cairan inokulan sudah keluar dari lubang.
• Tutup bagian tepi disekitar selang infuse dengan menggunakan “lilin malam”.
• Ulangi pengaturan aliran masuknya cairan infuse kedalam lubang setiap 1 – 2 hari, tergantung keadaan cairan dalam lubang. Pengaturan aliran dilakukan bila lubang sudah tidak terdapat lagi cairan inokulasi.
• Laksanakan penginokulasian ini hingga inokulan cair didalam botol infuse tersebut habis. Penginokulasian diulang kembali dengan botol inokulasi baru, bila belum ada tanda tanda kematian fisik dan fisiologis.
Di sadur dari buku:
Budidaya Gaharu karya Yana Sumarna 2002.
Potensi dan peluang bisnis tanaman Gaharu di Asahan
Karya Mujiono 2008.
http://www.facebook.com/note.php?note_id=160823926326
Mengingat jenis isolate penyakit pembentuk gaharu berbeda beda sesuai kondisi iklim dan lingkungan, maka penyedia inokulan perlu melakukan isolasi jenis penyakit yang berprospek memproduksi gaharu. Isolasi ini dilakukan terhadap tanaman gaharu alam yang berada di dalam kawasan hutan sekitar daerah pengembangan. Untuk tujuan tersebut, perlu diawali dengan pengamatan lapangan untuk mempelajari aspek gaharu yang tumbuh alami serta mengisolasi dan mengidentifikasi jenis penyakit dari pohon yang terserang.
Agar berhasil mengembangkan inokulan pembentuk gaharu, diperlukan teknik tertentu. Untuk hal ini, sangat diperlukan peran dari pemerintah daerah instansi atau lembaga terkait, perguruan tinggi, dan investor atau pengusaha swasta didaerah setempat sebagai pelaku produksi inokulan. Adapun tahapan teknik pengembangan inokulan sebagai berikut:
• Pilih pohon gaharu alami yang sudah terinfeksi mikroba penyakit pembentuk gaharu.
• Ambil potongan cabang atau kupasan batang pohon gaharu terpilih. Potongan cabang atau kupasan batang ini disebut “ Preparat ”.
• Bawa preparat tersebut ke Laboratorium dan upayakan agar suhu dan kelembapan nya tetap terjaga dengan cara dimasukkan dalam kotak es.
• Kembangkan spora dari preparat cabang dan atau batang tersebut di dalam media agar untuk diidentifikasi jenis mikrobanya sebagai biakan murni.
• Kembangkan spora dan miselium biakan murni tersebut kedalam media padat seperti serbuk gergaji pohon gaharu atau dalam media cair ang telah berisi unsur makro dan mikro sebagai energi hidup.
• Masukkan media spora kedalam incubator pembiakan dan kondisikan suhu dan kelembapan incubator pembiakan tersebut pada keadaan optimal, yaitu suhu 24 - 32C dan kelembapan 80%. Biarkan sekitar 1 – 2 bulan.
• Tempatkan spora yang sdah dibiakkan tersebut kedalam wadah berupa botol kaca, botol plastic, atau botol infuse bekas.
• Simpan botol dalam freezer incubator. Inokulan ini sudah siap diinokulasikan ke tanaman gaharu. Teknik inokulasi dengan inokulan terhadap pohon gaharu berbeda beda sesuai dengan bentuk inokulannya. Pada pelaksanaan penginokulasian terhadap pohon gaharu ini, harus diperhatikan umur dan diameter batangnya. Batas minimal suatu pohon dapat di inokulasi ditandai dengan pohon yang mulai berbunga. Biasanya umur tanaman tersebut sekitar 4 – 5 tahun atau diameter batang sudah mencapai 8 – 10 cm. Berikut diulas teknik inokulasi menggunakan inokulan padat dan cair.
Inokulasi dengan inokulan padat.
Teknik inokulasi pohon gaharu menggunakan inokulan padat dilaksanakan dengan cara sebagai berikut:
• Buat lubang pada batang kayu gaharu dengan menggunakan bor. Diameter lubang bor sekitar 0,8 – 10 mm. Kedalaman optimal pemboran ini perlu disesuaikan dengan ukuran diameter batang, biasanya sekitar 5 cm. Setiap batang dibuatkan banyak lubang dengan jarak antar lubang bor sekitar 20 cm.
• Bersihkan tangan pelaku inokulasi dengan air hingga bersih dan dibilas dengan alcohol sebelum pelaksanaan inokulasi.
• Masukkan inokulasi padat ke setiap lubang. Jumlah inokulan disesuaikan dengan kedalaman lubang. Sebagai patokan, pemasukan ini dilakukan hingga lubang terisi penuh dengan inokulan. Agar pemasukan menjadi mudah, gunakan potongan kayu atau bamboo yang ukurannya sesuai dengan ukuran diameter lubang.
• Tutup setiap lubang yang sudah diberi inokulan untuk mnghindari masuknya air ke dalam lubang. Penutupan lubang ini dilakukan dengan pasak kayu gaharu. Penutupan pun dapat dilakukan dengan “lili malam”
Inokulasi dengan inokulan cair.
Teknik inokulasi menggunakan inokulan cair dilaksanakan dengan cara sebagai berikut:
• Lakukan pengeboran pada pangkal batang pohon dengan posisi miring kebawah. Kedalaman pemboran disesuaikan dengan diameter batang pohon, biasanya 1/3 diameter batang. Sementara mata bor yang digunakan berukuran sama dengan selang infus sekitar 0,5 cm. Selang infuse tersebut biasanya sudah disediakan produsen inokulan pada saat pembelian inokulan. Namun, bila belum tersedia, selang infuse dapat disediakan sendiri oleh petani.
• Masukkan selang infus yang ada pada botol inokulan cair kedalam lubang.
• Atur besarnya aliran inokulan cair tersebut. Hentikan aliran infuse bila cairan inokulan sudah keluar dari lubang.
• Tutup bagian tepi disekitar selang infuse dengan menggunakan “lilin malam”.
• Ulangi pengaturan aliran masuknya cairan infuse kedalam lubang setiap 1 – 2 hari, tergantung keadaan cairan dalam lubang. Pengaturan aliran dilakukan bila lubang sudah tidak terdapat lagi cairan inokulasi.
• Laksanakan penginokulasian ini hingga inokulan cair didalam botol infuse tersebut habis. Penginokulasian diulang kembali dengan botol inokulasi baru, bila belum ada tanda tanda kematian fisik dan fisiologis.
Di sadur dari buku:
Budidaya Gaharu karya Yana Sumarna 2002.
Potensi dan peluang bisnis tanaman Gaharu di Asahan
Karya Mujiono 2008.
http://www.facebook.com/note.php?note_id=160823926326
Senin, November 09, 2009
Unram Segera Patenkan Teknologi Gubal Gaharu
Mataram (ANTARA News) - Universitas Mataram (Unram) Nusa Tenggara Barat (NTB), segera mempatenkan teknologi pembuatan Gubal Gaharu Lombok hasil temuan salah seorang peneliti Unram, yakni almarhum Dr. Parman, mantan Dekan Fakultas Pertanian.
Dekan Fakultas Pertanian Unram Ir. Sudirman, P.Hd, di Mataram, Senin, mengatakan, teknologi pembuatan Gubal Gaharu Lombok hasil temuan almarhum Dr. Parman menjadi perhatian sejumlah negara di dunia diantaranya Malaysia dan Jerman. Dua negara tersebut sangat tertarik dengan teknologi gubal Gaharu hasil temuan penelitian Unram.
"Atas dasar itulah, dalam waktu dekat Unram akan segera mengurus hak paten teknologi Gubal Gaharu, terlebih adanya berbagai budaya serta hasil penemuan pakar Indonesia yang diklaim oleh Malaysia belakangan ini," ujarnya.
Ia menjelaskan, Gubal Gaharu adalah kayu yang berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu, memiliki kandungan damar wangi dengan aroma yang agak kuat, ditandai oleh warnanya yang hitam atau kehitam-hitaman berseling coklat.
Menurut dia, sebelum didaftarkan untuk hak paten, terlebih dahulu akan dilakukan penelitian secara mendalam tentang ciri khas serta kelebihan teknologi Gaharu Lombok ini.
Para peneliti dari sejumlah negara yang belajar Gaharu ke Unram mengakui kalau Gaharu Lombok terbaik dari Gaharu yang ada di daerah lain di Indonesia maupun di negara lain.
Beberapa negara seperti Malaysia dan Jerman belum termasuk sejumlah daerah di Indonesia, telah menyatakan diri tertarik untuk mempelajari teknologi Gubal Gaharu di Lombok.
Bahkan lembaga riset Jerman menjalin kerja sama dengan Unram untuk fokus pada penelitian serta pengembangan sehingga Gaharu Lombok memiliki ciri khas sehingga tidak diklaim oleh daerah atau pun negara lain.
Sudirman menjelaskan, kerja sama yang dijalin bersama Malaysia dalam pengembangan Gaharu hanya bersifat biasa. Jika pihak Malaysia menyimpang dari isi memorandum of understanding (MoU) atau nota kesepahaman yang telah disepakati, maka pihaknya akan mencabut dan berhenti kerja sama dengan Malaysia.
"Kita tidak memberikan apa-apa dengan Malaysia hanya kerja sama biasa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ujarnya.
Selain Jerman, Malaysia dan sejumlah negara lainnya, tambah Sudirman, beberapa daerah di Indonesia juga tertarik dengan pengembangan serta kualitas Gaharu Lombok, salah satunya adalah Pemerintah Kabupaten Sorong Irian Jaya.
"Gaharu ini memiliki potensi yang besar dan pasarannya sangat mudah. Harga satu kilogram hasil panen Gaharu mulai Rp5 juta-Rp30 juta, tergantung kualitasnya. Hanya saja masa panennya cukup lama yakni sembilan tahun," ujarnya.
Senin, 14 September 2009
http://antaranews.com/berita/1252902516/unram-segera-patenkan-teknologi-gubal-gaharu
Dekan Fakultas Pertanian Unram Ir. Sudirman, P.Hd, di Mataram, Senin, mengatakan, teknologi pembuatan Gubal Gaharu Lombok hasil temuan almarhum Dr. Parman menjadi perhatian sejumlah negara di dunia diantaranya Malaysia dan Jerman. Dua negara tersebut sangat tertarik dengan teknologi gubal Gaharu hasil temuan penelitian Unram.
"Atas dasar itulah, dalam waktu dekat Unram akan segera mengurus hak paten teknologi Gubal Gaharu, terlebih adanya berbagai budaya serta hasil penemuan pakar Indonesia yang diklaim oleh Malaysia belakangan ini," ujarnya.
Ia menjelaskan, Gubal Gaharu adalah kayu yang berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu, memiliki kandungan damar wangi dengan aroma yang agak kuat, ditandai oleh warnanya yang hitam atau kehitam-hitaman berseling coklat.
Menurut dia, sebelum didaftarkan untuk hak paten, terlebih dahulu akan dilakukan penelitian secara mendalam tentang ciri khas serta kelebihan teknologi Gaharu Lombok ini.
Para peneliti dari sejumlah negara yang belajar Gaharu ke Unram mengakui kalau Gaharu Lombok terbaik dari Gaharu yang ada di daerah lain di Indonesia maupun di negara lain.
Beberapa negara seperti Malaysia dan Jerman belum termasuk sejumlah daerah di Indonesia, telah menyatakan diri tertarik untuk mempelajari teknologi Gubal Gaharu di Lombok.
Bahkan lembaga riset Jerman menjalin kerja sama dengan Unram untuk fokus pada penelitian serta pengembangan sehingga Gaharu Lombok memiliki ciri khas sehingga tidak diklaim oleh daerah atau pun negara lain.
Sudirman menjelaskan, kerja sama yang dijalin bersama Malaysia dalam pengembangan Gaharu hanya bersifat biasa. Jika pihak Malaysia menyimpang dari isi memorandum of understanding (MoU) atau nota kesepahaman yang telah disepakati, maka pihaknya akan mencabut dan berhenti kerja sama dengan Malaysia.
"Kita tidak memberikan apa-apa dengan Malaysia hanya kerja sama biasa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ujarnya.
Selain Jerman, Malaysia dan sejumlah negara lainnya, tambah Sudirman, beberapa daerah di Indonesia juga tertarik dengan pengembangan serta kualitas Gaharu Lombok, salah satunya adalah Pemerintah Kabupaten Sorong Irian Jaya.
"Gaharu ini memiliki potensi yang besar dan pasarannya sangat mudah. Harga satu kilogram hasil panen Gaharu mulai Rp5 juta-Rp30 juta, tergantung kualitasnya. Hanya saja masa panennya cukup lama yakni sembilan tahun," ujarnya.
Senin, 14 September 2009
http://antaranews.com/berita/1252902516/unram-segera-patenkan-teknologi-gubal-gaharu
Rabu, Agustus 19, 2009
Perhitungan kelayakan usaha Gaharu
Suatu usaha dikatakan baik dan layak untuk ditekuni bila dalam perhitungan kelayakan usaha memenuhi keriteria. Adapun beberapa perhitungan yang digunakan untuk menilai kelayakan usaha antara lain break event point ( BEP ), B/C ratio, dan ROI ( return of infestment ).
1. Break event point ( BEP )
BEP merupakan titik impas suatu usaha atau titik balik modal (usaha tidak mengalami kerugian maupun keuntungan). Untuk menghitung BEP suatu usaha, ada kriteria yang dapat digunakan, yaitu BEP biaya produksi dan BEP harga produksi.
a. BEP biaya produksi
BEP biaya produksi merupakan perbandingan antara biaya produksi dengan harga produk. Sebab produk yang dihasilkan ada tiga jenis, maka perhitungan BEP biaya produksi ini pun dilakukan untuk masing masing produk.
1) BEP biaya produksi gubal : Rp 402.200.000,00
Rp 12.000.000,00/kg
: 33,51 kg
Artinya, titik balik modal usaha produksi gubal gaharu bila jumlah produksi nya mencapai: 33,51 kg
2) BEP biaya produksi kemedangan : Rp 402.200.000,00
Rp 1.200.000,00
: 335,16 kg
Artinya, titik balik modal usaha produksi kemedangan bila jumlah produksi nya mencapai: 335,16 kg
3) BEP biaya produksi abu / bubuk : Rp 402.200.000,00
Rp 100.000,00
: 4022 kg
Artinya, titik balik modal usaha produksi abu / bubuk bila jumlah produksi nya mencapai : 4022 kg
b. BEP harga produksi
BEP biaya produksi merupakan perbandingan antara biaya produksi dengan total produksi. Sebab produk
yang dihasilkan ada tiga jenis, maka perhitungan BEP biaya produksi ini pun dilakukan untuk masing masing produk.
1) BEP biaya produksi gubal : Rp 402.200.000,00
1200 kg
: Rp 335.166,67 / kg
Artinya,titik balik modal usaha produksi gubal gaharu bila harga produksi mencapai: Rp 335.166,67 / kg
2) BEP biaya produksi kemedangan : Rp 402.200.000,00
12.000 kg
: Rp 33.516,66 / kg
Artinya, titik balik modal usaha produksi kemedangan gaharu bila harga produksi mencapai: Rp 33.516,66 / kg
3) BEP biaya produksi abu / bubuk : Rp 402.200.000,00
18.000 kg
: Rp 22.344,44 / kg
Artinya, titik balik modal usaha produksi abu bubuk gaharu bila harga produksi mencapai: Rp 22.344,44 / kg
2. B/C ( benefit cost ) ratio
Benefit cost ( B/C ) ratio yang merupakan nilai perbandingan antara hasil penjualan
dengan biaya operasional.
B/C ratio: Rp 30.600.000.000,00
Rp 402.200.000
: 76,08.
Artinya, dari biaya yang di keluarkan sebesar Rp 402.200.000,00 akan diperoleh hasil penjualan
76,08 kali lipat, sehingga sangat layak untuk di usahakan.
3. ROI ( return of infestment )
Return of Infestment ( ROI ) merupakan nilai perbandingan antara keuntungan usaha dengan biaya
operasional dikalikan 100%.
ROI: Rp 30.197.800.000,00 x 100%
Rp 402.200.000,00
: 7.508,15 %
Artinya, dari biaya yang di keluarkan sebesar Rp 100,00 akan dihasilkan keuntungan sebesar: Rp
7508,15 sehingga penggunaan modal untuk usaha ini sangat efisien.
Terimakasih,
Muji Tarmiji
1. Break event point ( BEP )
BEP merupakan titik impas suatu usaha atau titik balik modal (usaha tidak mengalami kerugian maupun keuntungan). Untuk menghitung BEP suatu usaha, ada kriteria yang dapat digunakan, yaitu BEP biaya produksi dan BEP harga produksi.
a. BEP biaya produksi
BEP biaya produksi merupakan perbandingan antara biaya produksi dengan harga produk. Sebab produk yang dihasilkan ada tiga jenis, maka perhitungan BEP biaya produksi ini pun dilakukan untuk masing masing produk.
1) BEP biaya produksi gubal : Rp 402.200.000,00
Rp 12.000.000,00/kg
: 33,51 kg
Artinya, titik balik modal usaha produksi gubal gaharu bila jumlah produksi nya mencapai: 33,51 kg
2) BEP biaya produksi kemedangan : Rp 402.200.000,00
Rp 1.200.000,00
: 335,16 kg
Artinya, titik balik modal usaha produksi kemedangan bila jumlah produksi nya mencapai: 335,16 kg
3) BEP biaya produksi abu / bubuk : Rp 402.200.000,00
Rp 100.000,00
: 4022 kg
Artinya, titik balik modal usaha produksi abu / bubuk bila jumlah produksi nya mencapai : 4022 kg
b. BEP harga produksi
BEP biaya produksi merupakan perbandingan antara biaya produksi dengan total produksi. Sebab produk
yang dihasilkan ada tiga jenis, maka perhitungan BEP biaya produksi ini pun dilakukan untuk masing masing produk.
1) BEP biaya produksi gubal : Rp 402.200.000,00
1200 kg
: Rp 335.166,67 / kg
Artinya,titik balik modal usaha produksi gubal gaharu bila harga produksi mencapai: Rp 335.166,67 / kg
2) BEP biaya produksi kemedangan : Rp 402.200.000,00
12.000 kg
: Rp 33.516,66 / kg
Artinya, titik balik modal usaha produksi kemedangan gaharu bila harga produksi mencapai: Rp 33.516,66 / kg
3) BEP biaya produksi abu / bubuk : Rp 402.200.000,00
18.000 kg
: Rp 22.344,44 / kg
Artinya, titik balik modal usaha produksi abu bubuk gaharu bila harga produksi mencapai: Rp 22.344,44 / kg
2. B/C ( benefit cost ) ratio
Benefit cost ( B/C ) ratio yang merupakan nilai perbandingan antara hasil penjualan
dengan biaya operasional.
B/C ratio: Rp 30.600.000.000,00
Rp 402.200.000
: 76,08.
Artinya, dari biaya yang di keluarkan sebesar Rp 402.200.000,00 akan diperoleh hasil penjualan
76,08 kali lipat, sehingga sangat layak untuk di usahakan.
3. ROI ( return of infestment )
Return of Infestment ( ROI ) merupakan nilai perbandingan antara keuntungan usaha dengan biaya
operasional dikalikan 100%.
ROI: Rp 30.197.800.000,00 x 100%
Rp 402.200.000,00
: 7.508,15 %
Artinya, dari biaya yang di keluarkan sebesar Rp 100,00 akan dihasilkan keuntungan sebesar: Rp
7508,15 sehingga penggunaan modal untuk usaha ini sangat efisien.
Terimakasih,
Muji Tarmiji
Sabtu, Juni 20, 2009
Pelatihan Budidaya Gaharu
Budidaya gaharu saat ini memang belum banyak dipahami bagi sebagian masyarakat Indonesia. Mulai bagaimana pemilihan bibit yang baik, perawatan, pemupukan dan pemberian serum unyuk membantu proses pembentukan gaharu, sampai bagaimana cara panen gaharu. Hanya sedikit masyarakat kita yang memahami, demikian yang disampaikan Ganif Aswoko disela-sela obrolan santai kami di Sawangan Permai, 20 Juni 2009.
Bertujuan memberikan pemahaman tersebut, Universitas Indonesia, dengan beberapa ahli gaharu berencana mengadakan Pelatihan Budidaya Gaharu, pada bulan Agustus 2009.
Ketentuan dan persyaratan peserta Pelatihan:
1. Pelatihan diadakan selama 2 hari, sehari teori, sehari terjun ke lapangan
2. Materi meliputi: Pembibitan, Penyuntikan serum dan tata cara panen
3. Investasi 2,5 juta per peserta
4. Minimal peserta 10 orang
Peminat diharapkan bisa menghubungi via email:
1.Ganif Aswoko , ganifaswoko@yahoo.com atau
2.Taqyuddin SSi MHum , taqygeo@gmail.com
Bertujuan memberikan pemahaman tersebut, Universitas Indonesia, dengan beberapa ahli gaharu berencana mengadakan Pelatihan Budidaya Gaharu, pada bulan Agustus 2009.
Ketentuan dan persyaratan peserta Pelatihan:
1. Pelatihan diadakan selama 2 hari, sehari teori, sehari terjun ke lapangan
2. Materi meliputi: Pembibitan, Penyuntikan serum dan tata cara panen
3. Investasi 2,5 juta per peserta
4. Minimal peserta 10 orang
Peminat diharapkan bisa menghubungi via email:
1.Ganif Aswoko , ganifaswoko@yahoo.com atau
2.Taqyuddin SSi MHum , taqygeo@gmail.com
Rabu, Juni 17, 2009
Manfaat Gaharu
Sampai saat ini, pemanfaatan gaharu masih dalam bentuk bahan baku (kayu bulatan, cacahan, bubuk,atau fosil kayu yang sudah terkubur. Setiap bentuk produk gaharu tersebut mempunyai bentuk dan sifat yang berbeda. Gaharu mempunyai kandungan resin atau damar wangi yang mengeluarkan aroma dengan keharuman yang khas. Dari aromanya itu yang sangat popular bahkan sangat disukai oleh masyarakat negara-negara di Timur Tengah, Saudi Arabia, Uni Emirat, Yaman, Oman, daratan Cina, Korea, dan Jepang sehingga dibutuhkan sebagai bahan baku industri parfum, obat-obatan, kosmetika, dupa, dan pengawet berbagai jenis asesoris serta untuk keperluan kegiatan keagamaan, gaharu sudah lama diakrabi bagi pemeluk agama Budha, dan Hindu.
Dengan seiringnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi industri, gaharu bukan hanya berguna sebagai bahan untuk industri wangi-wangian saja, tetapi juga secara klinis dapat dimanfaatkan sebagai obat.
Gaharu bisa dipakai sebagai obat: anti asmatik, anti mikroba, stimulant kerja syaraf dan pencernaan ,obat sakit perut, perangsang nafsu birahi, penghilang rasa sakit, kanker, diare, tersedak, tumor paru-paru, obat tumor usus ,penghilang stress, gangguan ginjal, asma, hepatitis, sirosis, dan untuk kosmetik (perawatan wajah dan menghaluskan kulit).
dari beberapa sumber.
Dengan seiringnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi industri, gaharu bukan hanya berguna sebagai bahan untuk industri wangi-wangian saja, tetapi juga secara klinis dapat dimanfaatkan sebagai obat.
Gaharu bisa dipakai sebagai obat: anti asmatik, anti mikroba, stimulant kerja syaraf dan pencernaan ,obat sakit perut, perangsang nafsu birahi, penghilang rasa sakit, kanker, diare, tersedak, tumor paru-paru, obat tumor usus ,penghilang stress, gangguan ginjal, asma, hepatitis, sirosis, dan untuk kosmetik (perawatan wajah dan menghaluskan kulit).
dari beberapa sumber.
Sabtu, Mei 23, 2009
Panen Gaharu
Bulan April 2009 yang lalu, di kebun gaharu milik Bapak Jonhy Wangko di Sukabumi Jawa Barat, telah dilakukan panen gaharu. Gaharu yang dipanen berumur 8 tahun, 3 tahun setelah penyuntikan serum. Panen disaksikan oleh Dr. Ir. Faisal Salampessy, SH. Dipl. Int, selaku Sekjen ASGARIN dan juga perwakilan dari Litbang Deartemen Kehutanan.
Dari Panen kali ini, diperoleh hasil gaharu kira-kira 60 kg/batang gaharu kering, dengan harga jual bervariasi sesuai kwalitas, yaitu Rp. 500.000 per kg, 3 juta/kg dan 6 juta /kg.
Pada hari Jumat, tgl 22 Mei 2009, di Jakarta, Bapak Ganif Aswoko, Ketua DMI Kota Depok, Bapak Taqyuddin SSi MHum, dari Universitas Indonesia, bapak Jonhy Wangko sebagai pelopor budidaya gaharu dan Dr. Ir. Faisal Salampessy, SH. Dipl. Int, Sekjen ASGARIN bertemu untuk menentukan langkah langkah yang akan dilakukan guna mensukseskan program budidaya gaharu di Indonesia.
Dalam waktu dekat diharapkan Universitas Indonesia bisa mengadakan semacam forum diskusi atau seminar bertaraf internasional, membahas tentang budidaya gaharu di Indonesia. Dengan harapan masyarakat Indonesia lebih paham dan ikut mensukseskan budidaya gaharu. Menurut Ganif Aswoko, budidaya gaharu Indonesia sebenarnya lebih maju daripada negara lain seperti Vietnam, India dan Malaysia.
Dalam kesempatan sebelumnya, bapak Salampessy dan Bapak Tarmizi Taher (Ketua DMI Pusat) sepakat untuk mengembangkan budidaya gaharu melalui jalur masjid di seluruh Indonesia.
Masyarakt yang ingin menanam gaharu tidak perlu kawatir tentang penjualan gaharu hasil panen nanti, karena ASGARIN akan menampung gaharu dari seluruh Indonesia, dengan harga sesuai kwalitas/standard mutu.
Dari Panen kali ini, diperoleh hasil gaharu kira-kira 60 kg/batang gaharu kering, dengan harga jual bervariasi sesuai kwalitas, yaitu Rp. 500.000 per kg, 3 juta/kg dan 6 juta /kg.
Pada hari Jumat, tgl 22 Mei 2009, di Jakarta, Bapak Ganif Aswoko, Ketua DMI Kota Depok, Bapak Taqyuddin SSi MHum, dari Universitas Indonesia, bapak Jonhy Wangko sebagai pelopor budidaya gaharu dan Dr. Ir. Faisal Salampessy, SH. Dipl. Int, Sekjen ASGARIN bertemu untuk menentukan langkah langkah yang akan dilakukan guna mensukseskan program budidaya gaharu di Indonesia.
Dalam waktu dekat diharapkan Universitas Indonesia bisa mengadakan semacam forum diskusi atau seminar bertaraf internasional, membahas tentang budidaya gaharu di Indonesia. Dengan harapan masyarakat Indonesia lebih paham dan ikut mensukseskan budidaya gaharu. Menurut Ganif Aswoko, budidaya gaharu Indonesia sebenarnya lebih maju daripada negara lain seperti Vietnam, India dan Malaysia.
Dalam kesempatan sebelumnya, bapak Salampessy dan Bapak Tarmizi Taher (Ketua DMI Pusat) sepakat untuk mengembangkan budidaya gaharu melalui jalur masjid di seluruh Indonesia.
Masyarakt yang ingin menanam gaharu tidak perlu kawatir tentang penjualan gaharu hasil panen nanti, karena ASGARIN akan menampung gaharu dari seluruh Indonesia, dengan harga sesuai kwalitas/standard mutu.
Senin, Mei 04, 2009
Inokulasi Percepat Produksi Gaharu
Untuk mengantisipasi kemungkinan punahnya pohon penghasil gaharu jenis-jenis langka sekaligus pemanfaatannya secara lestari. Badan Litbang Kehutanan melakukan upaya konservasi dan budidaya serta rekayasa untuk mempercepat produksi gaharu dengan teknologi induksi atau inokulasi.
Serangkaian penelitian yang dilakukan Badan Litbang Kehutanan saat ini telah menghasilkan teknik budidaya pohon penghasil gaharu dengan baik, mulai dari perbenihan, persemaian, penanaman, hingga pemeliharaannya. Sejumlah isolat jamur pembentuk gaharu hasil eksplorasi dari berbagai daerah di Indonesia telah teridentifikasi berdasar ciri morfologis. Penelitian yang dilakukan juga telah menghasilkan empat isolat jamur pembentuk gaharu yang telah teruji dan mampu membentuk infeksi gaharu dengan cepat. Inokulasi menggunakan isolat jamur tersebut telah menunjukkan tanda-tanda keberhasilan hanya dalam waktu satu bulan. Ujicoba telah dilakukan di Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Jawa Barat dan Banten.
Secara teknis, garis besar tahapan rekayasa produksi gaharu dimulai dengan isolasi jamur pembentuk yang diambil dari pohon penghasil gaharu sesuai jenis dan ekologi sebaran tumbuh pohon yang dibudidayakan. Isolat tersebut kemudian diidentifikasi berdasar taksonomi dan morfologi lalu dilakukan proses skrining untuk memastikan bahwa jamur yang memberikan respon pembentukan gaharu sesuai dengan jenis pohon penghasil gaharu agar memberikan hasil optimal. Tahap selanjutnya adalah perbanyakan jamur pembentuk gaharu tadi, kemudian induksi, dan terakhir pemanenan.
Di pasaran dalam negeri, kualitas gaharu dikelompokkan menjadi 6 kelas mutu, yaitu Super (Super King, Super, Super AB), Tanggung, Kacangan (Kacangan A, B, dan C), Teri (Teri A, B, C, Teri Kulit A, B), Kemedangan (A, B, C) dan Suloan. Klasifikasi mutu tersebut berbeda dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang membagi mutu gaharu menjadi 3 yaitu Klas Gubal, Kemedangan, dan Klas Abu. Perbedaan klasifikasi tersebut sering merugikan pencari gaharu karena tidak didasari dengan kriteria yang jelas.
dari beberapa sumber.
Serangkaian penelitian yang dilakukan Badan Litbang Kehutanan saat ini telah menghasilkan teknik budidaya pohon penghasil gaharu dengan baik, mulai dari perbenihan, persemaian, penanaman, hingga pemeliharaannya. Sejumlah isolat jamur pembentuk gaharu hasil eksplorasi dari berbagai daerah di Indonesia telah teridentifikasi berdasar ciri morfologis. Penelitian yang dilakukan juga telah menghasilkan empat isolat jamur pembentuk gaharu yang telah teruji dan mampu membentuk infeksi gaharu dengan cepat. Inokulasi menggunakan isolat jamur tersebut telah menunjukkan tanda-tanda keberhasilan hanya dalam waktu satu bulan. Ujicoba telah dilakukan di Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Jawa Barat dan Banten.
Secara teknis, garis besar tahapan rekayasa produksi gaharu dimulai dengan isolasi jamur pembentuk yang diambil dari pohon penghasil gaharu sesuai jenis dan ekologi sebaran tumbuh pohon yang dibudidayakan. Isolat tersebut kemudian diidentifikasi berdasar taksonomi dan morfologi lalu dilakukan proses skrining untuk memastikan bahwa jamur yang memberikan respon pembentukan gaharu sesuai dengan jenis pohon penghasil gaharu agar memberikan hasil optimal. Tahap selanjutnya adalah perbanyakan jamur pembentuk gaharu tadi, kemudian induksi, dan terakhir pemanenan.
Di pasaran dalam negeri, kualitas gaharu dikelompokkan menjadi 6 kelas mutu, yaitu Super (Super King, Super, Super AB), Tanggung, Kacangan (Kacangan A, B, dan C), Teri (Teri A, B, C, Teri Kulit A, B), Kemedangan (A, B, C) dan Suloan. Klasifikasi mutu tersebut berbeda dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang membagi mutu gaharu menjadi 3 yaitu Klas Gubal, Kemedangan, dan Klas Abu. Perbedaan klasifikasi tersebut sering merugikan pencari gaharu karena tidak didasari dengan kriteria yang jelas.
dari beberapa sumber.
Sabtu, April 18, 2009
Teknologi Pembibitan Gaharu
Teknologi perbanyakan bahan tanaman gaharu telah berhasil melalui melalui teknologi kultur jaringan, seperti yang telah dikembangkan oleh Litbang Departemen Kehutanan. Dalam implementasinya produk tersebut juga sudah mulai disalurkan kepada masyarakat petani di beberapa daerah di beberapa Provinsi di Indonesia.
Rekayasa Inokulasi Jamur
Tanaman berumur 5 tahun memiliki diameter dbh 10 cm, dan siap untuk di inokulasi dengan jamur (Fusarium).
Teknik penyuntikan jamur ke dalam kayu gaharu sehingga menjadi ter-infeksi dan berpeluang kayu gaharu menghasilkan resin setelah 1-3 tahun kemudian.
Resin gaharu yang berkualitas memerlukan penerapan teknologi secara benar dan terkontrol.
Ciri pohon gaharu yang produktif dapat dikenali melalui warna atau noda hitam dan aroma harum.
Kualitas kayu gaharu dulu dibedakan menjadi 2 yaitu:
(a) jenis super (kualitas 1 hingga kualitas 3), dan
(b) jenis buaya.
Harga komoditas gaharu tahun 2007 tercatat Rp. 500 ribu - 2 juta rupiah per kg.
Brosur DMI Depok
Senin, April 06, 2009
Teh Gaharu
Minum teh hangat merupakan suatu kenikmatan tersendiri bagi kita, apalagi disaat cuaca dingin seperti sekarang ini. Saat ini selain menghasilkan bahan untuk obat maupun minyak wangi, ternyata gaharu juga bisa dijadikan teh. Barangkali sebagian dari kita belum pernah merasakan Teh Gaharu. Sebuah perusahaan di Malaysia AROMAMAS ENTERPRISE sudah mengeluarkan produk teh gaharu ini.
Dari informasi yang kami peroleh, berikut ini manfaat dan khasiat dari teh gaharu:
1.Membantu masalah insomnia/sukar tidur
2.Membantu merendahkan tahap kolestrol
3.Membantu meredakan ketegangan/hiperten si/stress
4.Membantu mengurangkan toksik dalam badan
5.Tanpa gula - Tanpa Kafein - Tanpa Asis Tanin
6.Mengatasi masalah pelawasan
7.Anti Oksidant
8.Mengurangkan kadar tekanan dalam darah dan gula yang tinggi
Terbuka peluang untuk menjadi agen pemasaran, ada yang berminat?
Dari informasi yang kami peroleh, berikut ini manfaat dan khasiat dari teh gaharu:
1.Membantu masalah insomnia/sukar tidur
2.Membantu merendahkan tahap kolestrol
3.Membantu meredakan ketegangan/hiperten si/stress
4.Membantu mengurangkan toksik dalam badan
5.Tanpa gula - Tanpa Kafein - Tanpa Asis Tanin
6.Mengatasi masalah pelawasan
7.Anti Oksidant
8.Mengurangkan kadar tekanan dalam darah dan gula yang tinggi
Terbuka peluang untuk menjadi agen pemasaran, ada yang berminat?
Senin, Maret 30, 2009
Panen Gaharu
Ketua Team Masjid Gaharu DMI Kota Depok, Ganif Aswoko mengundang para petani gaharu, ataupun yang berminat pada budidaya gaharu untuk bersama-sama melihat dari dekat proses panen gaharu. Kebun gaharu yang akan dipanen adalah kebun milik Bapak Joni Wangko, yang terletak di daerah Sukabumi Jawa Barat. Pelaksanaan panen akan dilakukan pada bulan April 2009.
Maksud dari kegiatan ini adalah untuk memberikan penjelasan secara langsung proses panen gaharu, dengan cara melihat dari dekat. Akan sangat bermanfaat bagi para petani maupun investor yang tertarik dengan budidaya gaharu.
Diharapkan bagi yang berminat melihat panen gaharu ini untuk menghubungi Bapak Ganif Aswoko.
Maksud dari kegiatan ini adalah untuk memberikan penjelasan secara langsung proses panen gaharu, dengan cara melihat dari dekat. Akan sangat bermanfaat bagi para petani maupun investor yang tertarik dengan budidaya gaharu.
Diharapkan bagi yang berminat melihat panen gaharu ini untuk menghubungi Bapak Ganif Aswoko.
Selasa, Maret 24, 2009
Gaharu Tumbuh Liar Di Tapanuli
Salam kemakmuran.. .
Halo rekan sekalian, bolehkan saya disini sedikit banyak mulut. Eeeeh, maksudnya pengen cerita tentang pengalaman hari Jum'at lalu tentang gaharu. Tanggal 13 maret 2009, tepatnya hari Jum'at, saya diundang salah satu rekan pakar gaharu di Bogor, asli Sumatera utara ke pertemuan akbar petani di Tarutung. Bapak Ir, Joner Pangihutan M.Si dari Biotrop Bogor. Beliau sebagai narasumber pada acara itu, sedangkan saya adalah tamu biasa aja. Tapi karena saya undangan khusus pada acara itu, saya berksempatan duduk pada kursi paling depan, sehingga berpotensi berkenalan dengan beberapa pejabatsetempat.
Ternyata acara itu juga di muati nuansa politik, untuk mendukung salah satu partai di negeri kita. Saya sedikit terkejut, karena pada undangan tersebut tidak ada berita politik segala. Tapi baiklah,ada atau tidak muatan politik tidak kita bahas. Namun, yang minta didukung namanya pada adalah juga mendukung pertanian di daerah itu.
Acara dimulai pada jam 11 wib, diadakan di gedung Serba guna Tarutung. Undangan sekitar 1500 orang, namun yang hadir ada sekitar 1700 orang. Sungguh luar biasa pikir saya, karena yang hadir pada saat itu dimulai dari petani, kelompok tani, KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan), Penyuluh Pertanian, Pejabat Pertanian, Seluruh jajaran Pemkab Tapanuli utara, juga tak ketinggalan Bapak TORANG LUMBAN TOBING, Bupati Tapanuli utara terpilih.
Acara berlangsung hikmat, seru dan gembira.
Satu demi satu acara di langsungkan, dimulai dari Nara sumber Bapak Ojak Siagian, mantan anggota MPR RI,yang juga pernah menjabat sebagai pengurus KTNA Nasional.
Beliau berpendapat, petani Sumatera utara tidak ketinggalan teknologi. Karena,
beberapa petani nasional masih banyak yang mempunyai nama di pertanian nasional.
Acara ke dua, Nara sumber nya bapak Ir, Joner Pangihutan Situmorang, M.Si dari
BIOTROP Training and Information Centre, Bogor.
Pada saat itu, acara berlangsung sangat hidmat seperti sedang dalam merenung masal.
Mengapa ??? Beliau menerangkan betapa pohon Gaharu yang mempunyai potensi dan nilai jual juga manfaat serta harganya yang sangat menggiurkan tersebut, ternyata sangat banyak tumbuh liar di Tapanuli utara.
Para petani terkejut, dan mengatakan: "Ai songondia do hau na dohot aha do goarna molo adong dison?". artinya,: Seperti apa sich pohonnya, dan apa nama bahasa daerah sini kalo emang benar itu ada disini???
Sungguh ironis, petani belum mengenal tumbuhan yang bernama Gaharu tersebut.
Padahal, bila petani mau investasi 10 pohon saja untuk di tanam dipekarangan rumah, dan itu dilaksanakan setiap yang namanya petani, bisa kita bayangkan, negeri ini aman, minimal tidak ada maling atau Koruptor. Karena dapat kita hitung kasar, setiap pohon akan menghasilkan getah gaharu sebanyak 3 - 5 kg saja, dengan harga rata rata Rp 10.000.000.00 / kg. Maka petani akan memanen gaharunya 7 - 10 tahun mendatang, 10 pohon dikali kan 1 kg saja dengan harga tsb diatas, maka: Rp 100.000.000. 00 / Kepala Keluarga. Bila petani / masyarakat masing masing sudah memiliki uang sebanyak itu dengan rata-rata. Secara sosial, negeri ini akan aman sedemikian rupa.
Memang benar, di Kabupaten Tapanuli utara itu sangat banyakpohon gaharu
tersebut, ratusan atau bahkan ribuan tumbuh liar di sela sela pohon karet, kemenyan yang berada diatas tanah / hutan masyarakat. Artinya bukan berada di hutan lindung. Posisi paling banyak pohon gaharu itu berada di Kecamatan Adian koting dan Kecamatan Pahae Julu.
Acara selesai pada pukul 15 wib.
Masyarakat sangat antusias, sebagian besar mendatangi bapak Situmorang untuk menanyakan lebih lanjut dan tentang no hp.Juga saya, yang sedikit pun tidak bersuara atau berbicara kedepan mimbar, tapi mereka tau kalau saya adalah tamu dari luar deerah, sebagian kecil mereka juga mengerubungi atau mengadakan tanya jawab dengan saya. Mungkin tadinya saya dianggap sebagai Peneliti gaharu dari Bogor juga.
Selesai acara kami terus kerumah dinas bupati, atas undangan beliau. Ternyata bapak bupati juga merasa penasaran juga terhadap gaharu. Mengapa saya sebagai kepala daerah tidak mengetahui keberadaan gaharu di kampong saya, pikirnya.
Maka kami: Bapak Ojak Siagian, Bapak Joner Situmorang, Bapak Bloner Nainggolan (Kepala Badan Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan), Staff bupati dan Bapak Bupati berangkat dengan mengendarai mobil dinas bupati menuju lokasi pohon gaharu terdekat dan terjangkau untuk dilihat. Sekitar 30 km dari Tarutung menuju. Kecamatan Adaian koting. Yang sangat aneh saya rasa adalah bapak Torang Lumban Tobing adalah seorang bupati yang bersahaja, dekat dengan rakyatnya, terbukti dari kunjungan kami ke Adaian koting tersebut, beliau lah yang memandu atau menyupir mobil dinas bupatinya bersama sama kami. Sungguh luar biasa. Kami menanyakan: "Bah !!! Pak bupati do na mamboan mobil?" Lho, pak bupati yang menyupir mobil?
Apa jawab beliau: "Akh, bupati masa kini do!" Akh, biasa. Bupati jaman sekarang.
Nah, dari pelajaran ini, banyak yang dapat kita suri tauladani. Sebagai pemimpin daerah, bupati juga sangat mendukung tentang pertanian. Juga gaharu yang hidup di Tapanuli utara itu juga hidup di Asahan. Seperti kita ketahui, di Asahan juga ada di 2 kecamatan.Kecamatan Air batu dan Bandar pulau. Mengapa tidak kita lestarikan seperti halnya para pembudidaya gaharu dari daerah lain. Inikan suatu modal untuk masa depan kita. Untuk menyelamatkan gaharu di Asahan, mari kita lestarikan.
Mari kita hijaukan Asahan dengan Gaharu, yang memang sudah sangat langka.
Gaharu kita sudah punah, karena selama ini banyak para pemburu gaharu yang menebangnya dengan liar, dan tidak terpikirkan oleh mereka untuk mengganti tanam gaharu tersebut.Ini menjadi tanggung jawab kita untuk mengganti tanam, seperti Reboisasi. Bedanya, reboisasi kita tidak perlu tanam ke hutan, kita juga dapat menanamnya kembali di pekarangan rumah kita, atau di sekitar halaman balai desa juga halaman rumah ibadah.
Kalau bisa, mari kita sukseskan program bapak SBY, yang menyatakan di tahun 2009 ini kita harus menanam 1 pohon untuk 1 jiwa penduduk negeri ini, maka untuk ambil surplus nya mari kita tanam 10 pohon untuk setiap jiwa. Seperti yang sudah dilaksanakan Pemerintah Daerah Garut Jawa barat, setiap pasangan Pengantin baru dan pasangan yang akan mengurus perceraian rumahtangga di kantor urusan agama, di wajibkan menanam pohon agar daera Garut tersebut akan hijau berpenghijauan.
Dari cerita diatas, saya mengharapkan dukungan para rekan rekan pembaca untuk mendukung program penghijauan ini. Baik dari Asahan maupun masyarakat Asahan dimanapun berada.
Agar terwujud cita cita Gaharu di Asahan yang kita cintai ini. trampil para putera puteri nya yang akan menyongsong masa depan.
Terimakasih.
Muji Tarmiji.
Asahan Budidaya Gaharu - Club.
Best Regards.
sumber: millist pecinta gaharu
Halo rekan sekalian, bolehkan saya disini sedikit banyak mulut. Eeeeh, maksudnya pengen cerita tentang pengalaman hari Jum'at lalu tentang gaharu. Tanggal 13 maret 2009, tepatnya hari Jum'at, saya diundang salah satu rekan pakar gaharu di Bogor, asli Sumatera utara ke pertemuan akbar petani di Tarutung. Bapak Ir, Joner Pangihutan M.Si dari Biotrop Bogor. Beliau sebagai narasumber pada acara itu, sedangkan saya adalah tamu biasa aja. Tapi karena saya undangan khusus pada acara itu, saya berksempatan duduk pada kursi paling depan, sehingga berpotensi berkenalan dengan beberapa pejabatsetempat.
Ternyata acara itu juga di muati nuansa politik, untuk mendukung salah satu partai di negeri kita. Saya sedikit terkejut, karena pada undangan tersebut tidak ada berita politik segala. Tapi baiklah,ada atau tidak muatan politik tidak kita bahas. Namun, yang minta didukung namanya pada adalah juga mendukung pertanian di daerah itu.
Acara dimulai pada jam 11 wib, diadakan di gedung Serba guna Tarutung. Undangan sekitar 1500 orang, namun yang hadir ada sekitar 1700 orang. Sungguh luar biasa pikir saya, karena yang hadir pada saat itu dimulai dari petani, kelompok tani, KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan), Penyuluh Pertanian, Pejabat Pertanian, Seluruh jajaran Pemkab Tapanuli utara, juga tak ketinggalan Bapak TORANG LUMBAN TOBING, Bupati Tapanuli utara terpilih.
Acara berlangsung hikmat, seru dan gembira.
Satu demi satu acara di langsungkan, dimulai dari Nara sumber Bapak Ojak Siagian, mantan anggota MPR RI,yang juga pernah menjabat sebagai pengurus KTNA Nasional.
Beliau berpendapat, petani Sumatera utara tidak ketinggalan teknologi. Karena,
beberapa petani nasional masih banyak yang mempunyai nama di pertanian nasional.
Acara ke dua, Nara sumber nya bapak Ir, Joner Pangihutan Situmorang, M.Si dari
BIOTROP Training and Information Centre, Bogor.
Pada saat itu, acara berlangsung sangat hidmat seperti sedang dalam merenung masal.
Mengapa ??? Beliau menerangkan betapa pohon Gaharu yang mempunyai potensi dan nilai jual juga manfaat serta harganya yang sangat menggiurkan tersebut, ternyata sangat banyak tumbuh liar di Tapanuli utara.
Para petani terkejut, dan mengatakan: "Ai songondia do hau na dohot aha do goarna molo adong dison?". artinya,: Seperti apa sich pohonnya, dan apa nama bahasa daerah sini kalo emang benar itu ada disini???
Sungguh ironis, petani belum mengenal tumbuhan yang bernama Gaharu tersebut.
Padahal, bila petani mau investasi 10 pohon saja untuk di tanam dipekarangan rumah, dan itu dilaksanakan setiap yang namanya petani, bisa kita bayangkan, negeri ini aman, minimal tidak ada maling atau Koruptor. Karena dapat kita hitung kasar, setiap pohon akan menghasilkan getah gaharu sebanyak 3 - 5 kg saja, dengan harga rata rata Rp 10.000.000.00 / kg. Maka petani akan memanen gaharunya 7 - 10 tahun mendatang, 10 pohon dikali kan 1 kg saja dengan harga tsb diatas, maka: Rp 100.000.000. 00 / Kepala Keluarga. Bila petani / masyarakat masing masing sudah memiliki uang sebanyak itu dengan rata-rata. Secara sosial, negeri ini akan aman sedemikian rupa.
Memang benar, di Kabupaten Tapanuli utara itu sangat banyakpohon gaharu
tersebut, ratusan atau bahkan ribuan tumbuh liar di sela sela pohon karet, kemenyan yang berada diatas tanah / hutan masyarakat. Artinya bukan berada di hutan lindung. Posisi paling banyak pohon gaharu itu berada di Kecamatan Adian koting dan Kecamatan Pahae Julu.
Acara selesai pada pukul 15 wib.
Masyarakat sangat antusias, sebagian besar mendatangi bapak Situmorang untuk menanyakan lebih lanjut dan tentang no hp.Juga saya, yang sedikit pun tidak bersuara atau berbicara kedepan mimbar, tapi mereka tau kalau saya adalah tamu dari luar deerah, sebagian kecil mereka juga mengerubungi atau mengadakan tanya jawab dengan saya. Mungkin tadinya saya dianggap sebagai Peneliti gaharu dari Bogor juga.
Selesai acara kami terus kerumah dinas bupati, atas undangan beliau. Ternyata bapak bupati juga merasa penasaran juga terhadap gaharu. Mengapa saya sebagai kepala daerah tidak mengetahui keberadaan gaharu di kampong saya, pikirnya.
Maka kami: Bapak Ojak Siagian, Bapak Joner Situmorang, Bapak Bloner Nainggolan (Kepala Badan Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan), Staff bupati dan Bapak Bupati berangkat dengan mengendarai mobil dinas bupati menuju lokasi pohon gaharu terdekat dan terjangkau untuk dilihat. Sekitar 30 km dari Tarutung menuju. Kecamatan Adaian koting. Yang sangat aneh saya rasa adalah bapak Torang Lumban Tobing adalah seorang bupati yang bersahaja, dekat dengan rakyatnya, terbukti dari kunjungan kami ke Adaian koting tersebut, beliau lah yang memandu atau menyupir mobil dinas bupatinya bersama sama kami. Sungguh luar biasa. Kami menanyakan: "Bah !!! Pak bupati do na mamboan mobil?" Lho, pak bupati yang menyupir mobil?
Apa jawab beliau: "Akh, bupati masa kini do!" Akh, biasa. Bupati jaman sekarang.
Nah, dari pelajaran ini, banyak yang dapat kita suri tauladani. Sebagai pemimpin daerah, bupati juga sangat mendukung tentang pertanian. Juga gaharu yang hidup di Tapanuli utara itu juga hidup di Asahan. Seperti kita ketahui, di Asahan juga ada di 2 kecamatan.Kecamatan Air batu dan Bandar pulau. Mengapa tidak kita lestarikan seperti halnya para pembudidaya gaharu dari daerah lain. Inikan suatu modal untuk masa depan kita. Untuk menyelamatkan gaharu di Asahan, mari kita lestarikan.
Mari kita hijaukan Asahan dengan Gaharu, yang memang sudah sangat langka.
Gaharu kita sudah punah, karena selama ini banyak para pemburu gaharu yang menebangnya dengan liar, dan tidak terpikirkan oleh mereka untuk mengganti tanam gaharu tersebut.Ini menjadi tanggung jawab kita untuk mengganti tanam, seperti Reboisasi. Bedanya, reboisasi kita tidak perlu tanam ke hutan, kita juga dapat menanamnya kembali di pekarangan rumah kita, atau di sekitar halaman balai desa juga halaman rumah ibadah.
Kalau bisa, mari kita sukseskan program bapak SBY, yang menyatakan di tahun 2009 ini kita harus menanam 1 pohon untuk 1 jiwa penduduk negeri ini, maka untuk ambil surplus nya mari kita tanam 10 pohon untuk setiap jiwa. Seperti yang sudah dilaksanakan Pemerintah Daerah Garut Jawa barat, setiap pasangan Pengantin baru dan pasangan yang akan mengurus perceraian rumahtangga di kantor urusan agama, di wajibkan menanam pohon agar daera Garut tersebut akan hijau berpenghijauan.
Dari cerita diatas, saya mengharapkan dukungan para rekan rekan pembaca untuk mendukung program penghijauan ini. Baik dari Asahan maupun masyarakat Asahan dimanapun berada.
Agar terwujud cita cita Gaharu di Asahan yang kita cintai ini. trampil para putera puteri nya yang akan menyongsong masa depan.
Terimakasih.
Muji Tarmiji.
Asahan Budidaya Gaharu - Club.
Best Regards.
sumber: millist pecinta gaharu
Minggu, Maret 22, 2009
Kemitraan UI dan DMI Kota Depok, Manfaat
Manfaat:
1. Kepedulian Universitas Indonesia dalam mengamalkan Tridarma Perguruan Tinggi yaitu Pengabdian Masyarakat dalam pembangunan partisipatif penguatan ekonomi ummat/masyarakat dan pengentasan pengangguran serta kemiskinan akibat krisis multi demensi dan bencana alam.
2. Pengembangan Riset Universitas Indonesia dalam mendukung penyediaan bahan tanaman melalui teknologi kultur jaringan, penelitian farmasi resin gaharu berkualitas tinggi.
3.Memberdayakan lapangan kerja petani pembibitan, petani penggarap, petani pemelihara, petani pengumpul dan pedagang (termasuk eksport import).
4.Memberdayakan sumberdaya lahan: masjid, pemakaman, pondok pesantren, pekarangan masyarakat, lahan terlantar (kritis) melalui budidaya gaharu, berarti memberikan kontribusi mendukung program perbaikan lingkungan hidup dan peningkatan produktifitas sumberdaya lahan.
5.Membudayanya teknologi usaha budidaya gaharu bagi ummat/masyarakat pedesaan dan perkotaan.
6.Memenuhi tuntutan pasar kayu gaharu dan resin gaharu dalam negeri maupun luar negeri.
1. Kepedulian Universitas Indonesia dalam mengamalkan Tridarma Perguruan Tinggi yaitu Pengabdian Masyarakat dalam pembangunan partisipatif penguatan ekonomi ummat/masyarakat dan pengentasan pengangguran serta kemiskinan akibat krisis multi demensi dan bencana alam.
2. Pengembangan Riset Universitas Indonesia dalam mendukung penyediaan bahan tanaman melalui teknologi kultur jaringan, penelitian farmasi resin gaharu berkualitas tinggi.
3.Memberdayakan lapangan kerja petani pembibitan, petani penggarap, petani pemelihara, petani pengumpul dan pedagang (termasuk eksport import).
4.Memberdayakan sumberdaya lahan: masjid, pemakaman, pondok pesantren, pekarangan masyarakat, lahan terlantar (kritis) melalui budidaya gaharu, berarti memberikan kontribusi mendukung program perbaikan lingkungan hidup dan peningkatan produktifitas sumberdaya lahan.
5.Membudayanya teknologi usaha budidaya gaharu bagi ummat/masyarakat pedesaan dan perkotaan.
6.Memenuhi tuntutan pasar kayu gaharu dan resin gaharu dalam negeri maupun luar negeri.
Team Program “Masjid Gaharu” Kota Depok
Untuk membeli bibit gaharu, umat/masyarakat dapat menghubungi :
Team Program “Masjid Gaharu” Kota Depok
1.Ganif Aswoko, ganifaswoko@yahoo.com
2.Taqyuddin SSi MHum, email : taqygeo@gmail.com
Team Program “Masjid Gaharu” Kota Depok
1.Ganif Aswoko, ganifaswoko@yahoo.com
2.Taqyuddin SSi MHum, email : taqygeo@gmail.com
Kamis, Maret 19, 2009
Kemitraan UI dan DMI Kota Depok, Maksud dan Tujuan
Maksud
Universitas Indonesia bersama Dewan Masjid Indonesia Kota Depok mewujudkan nota kesepakatan pengelolaan dalam melakukan kerjasama penelitian dan budidaya tanaman gaharu untuk peningkatan kesejahteraan umat/masyarakat dengan pemanfaatan lahan Masjid dan lahan umat/masyarakat sekitar Masjid.
Tujuan
1. Peningkatan produktivitas lahan Masjid
2. Memberikan peluang usaha alternatif
3. Meningkatkan pendapatan pengelolaan masjid dan umat
4. Masjid sebagai pusat aktifitas umat dalam bidang pendidikan agama, ekonomi, sosial serta budaya(teknologi)
Upaya peningkatan produktivitas lahan dengan budidaya komuditas gaharu diperlukan penelitian tersendiri, hal ini penting karena dengan mengetahui lahan yang tersedia dan syarat tumbuh tanaman, diperoleh perhitungan produksi yang dihasilkan perpohon dan atau perhektar hingga mencapai daur ekonomis.
Universitas Indonesia bersama Dewan Masjid Indonesia Kota Depok mewujudkan nota kesepakatan pengelolaan dalam melakukan kerjasama penelitian dan budidaya tanaman gaharu untuk peningkatan kesejahteraan umat/masyarakat dengan pemanfaatan lahan Masjid dan lahan umat/masyarakat sekitar Masjid.
Tujuan
1. Peningkatan produktivitas lahan Masjid
2. Memberikan peluang usaha alternatif
3. Meningkatkan pendapatan pengelolaan masjid dan umat
4. Masjid sebagai pusat aktifitas umat dalam bidang pendidikan agama, ekonomi, sosial serta budaya(teknologi)
Upaya peningkatan produktivitas lahan dengan budidaya komuditas gaharu diperlukan penelitian tersendiri, hal ini penting karena dengan mengetahui lahan yang tersedia dan syarat tumbuh tanaman, diperoleh perhitungan produksi yang dihasilkan perpohon dan atau perhektar hingga mencapai daur ekonomis.
Rabu, Maret 18, 2009
Kemitraan UI dan DMI Kota Depok
Latar Belakang
Menghadapi permasalahan umat, bangsa dan negara adalah tanggung jawab bersama. Peran serta berbagai pihak sangat diharapkan baik perguruan tinggi, lembaga atau institusi masyarakat, investor dan umat.
Banyak program yang sudah dijalankan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah hanya percepatan dan kerjasama yang harmonis dari seluruh lapisan masyarakat dapat mempercepat umat/masyarakat untuk keluar dari cekaman krisis multi dimensi yang salah satunya yaitu krisis ekonomi. Untuk itu Universitas Indonesia melalui Pusat Penelitian Geografi Terapan (PPGT-FMIPA UI) bersama Dewan Masjid Indonesia Kota Depok sepakat untuk bekerjasama dalam Program "Masjid Gaharu". Hal ini dalam rangka pencanangan Tahun Gaharu Indonesia 2009 dan Program Indonesia Wangi Gaharu 2019.
Menghadapi permasalahan umat, bangsa dan negara adalah tanggung jawab bersama. Peran serta berbagai pihak sangat diharapkan baik perguruan tinggi, lembaga atau institusi masyarakat, investor dan umat.
Banyak program yang sudah dijalankan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah hanya percepatan dan kerjasama yang harmonis dari seluruh lapisan masyarakat dapat mempercepat umat/masyarakat untuk keluar dari cekaman krisis multi dimensi yang salah satunya yaitu krisis ekonomi. Untuk itu Universitas Indonesia melalui Pusat Penelitian Geografi Terapan (PPGT-FMIPA UI) bersama Dewan Masjid Indonesia Kota Depok sepakat untuk bekerjasama dalam Program "Masjid Gaharu". Hal ini dalam rangka pencanangan Tahun Gaharu Indonesia 2009 dan Program Indonesia Wangi Gaharu 2019.
Sabtu, Februari 21, 2009
MOU Budidaya Gaharu ditandatangani
Pada tanggal 18 Februari 2009, bertempat di Hotel sultan Jakarta telah ditandatangani MOU Budidaya tanaman gaharu antara MKGR, ASGARIN dan DMI Pusat. Penandatanganan MOU bertepatan dengan acara pembentukan Dewan pengurus ASGARIN. Pengembangan budidaya gaharu akan melibatkan 100.000 masjid di seluruh Indonesia. Demikian disampaikan Ganif Aswoko, ketua DMI Depok di rumahnya di Sawangan Permai.
Persaingan harga kayu gaharu di pasar Timur Tengah, Taiwan dan Jepang sangat ketat. Negara pesaing utama produk gaharu yaitu India, Malaysia, Kamboja dan Thailand yang sering mematok harga lebih rendah dari komoditi Indonesia dengan kualitas lebih baik.
DMI kota Depok telah lebih dulu mengadakan kerjasama budidaya gaharu dengan Universitas Indonesia.
Persaingan harga kayu gaharu di pasar Timur Tengah, Taiwan dan Jepang sangat ketat. Negara pesaing utama produk gaharu yaitu India, Malaysia, Kamboja dan Thailand yang sering mematok harga lebih rendah dari komoditi Indonesia dengan kualitas lebih baik.
DMI kota Depok telah lebih dulu mengadakan kerjasama budidaya gaharu dengan Universitas Indonesia.
Langganan:
Postingan (Atom)
