Team Program 'Masjid Gaharu' Kota Depok
2.Taqyuddin SSi MHum , email: taqygeo@gmail.com
Minggu, Februari 15, 2009
Pengujian Mutu Gaharu
1. Prinsip : Pengujian dilakukan secara kasat mata (visual) dengan mengutamakan kesan warna dan kesan bau (aroma) apabila dibakar.
2. Peralatan yang digunakan meliputi meteran, pisau, bara api, kaca pembesar (loupe) ukuran pembesaran > 10 (sepuluh) kali, dan timbangan.
3. Syarat pengujian
a. Kayu gaharu yang akan diuji harus dikelompokkan menurut sortimen yang sama. Khusus untuk abu gaharu dikelompokkan menurut warna yang sama.
b. Pengujian dilaksanakan ditempat yang terang (dengan pencahayaan yang cukup), sehingga dapat mengamati semua kelainan yang terdapat pada kayu atau abu gaharu.
4. Pelaksanaan pengujian
a. Penetapan jenis kayu
Penetapan jenis kayu gaharu dapat dilaksanakan dengan memeriksa ciri umum kayu gaharu.
b. Penetapan ukuran
Penetapan ukuran panjang, lebar dan tebal kayu gaharu hanya berlaku untuk jenis gubal gaharu.
c. Penetapan berat
Penetapan berat dilakukan dengan cara penimbangan, menggunakan satuan kilogram (kg).
d. Penetapan mutu
Penetapan mutu kayu gaharu adalah dengan penilaian terhadap ukuran, warna, bentuk, keadaan serat, bobot kayu, dan aroma dari kayu gaharu yang diuji.
Sedangkan untuk abu gaharu dengan cara menilai warna dan aroma.
1. Penilaian terhadap ukuran kayu gaharu, adalah dengan cara mengukur panjang, lebar dan tebal, sesuai dengan syarat mutu.
2. Penilaian terhadap warna kayu dan abu gaharu adalah dengan menilai ketuaan warna, lebih tua warna kayu, menandakan kandungan damar semakin tinggi.
3. Penilaian terhadap kandungan damar wangi dan aromanya adalah dengan cara memotong sebagian kecil dari kayu gaharu atau mengambil sejumput abu gaharu, kemudian membakarnya. Kandungan damar wangi yang tinggi dapat dilihat dari hasil pembakaran, yaitu kayu atau abu gaharu tersebut meleleh dan mengeluarkan aroma yang wangi dan kuat.
4. Penilaian terhadap serat kayu gaharu, adalah menilai kerapatan dan kepadatan serat kayu. Serat kayu yang rapat, padat, halus dan licin, bermutu lebih tinggi dari pada serat yang jarang dan kasar.
e. Penetapan mutu akhir
Penetapan mutu akhir didasarkan pada mutu terendah menurut salah satu persyaratan mutu berdasarkan karakteristik kayu gaharu.
Selasa, Februari 10, 2009
Cara Pengambilan Gaharu
2. Pohon yang telah ditebang lalu dibersihkan dan dipotong-potong atau dibelah-belah, kemudian dipilih bagian-bagian kayunya yang telah mengandung akumulasi damar wangi, dan selanjutnya disebut sebagai kayu gaharu.
3. Potongan-potongan kayu gaharu tersebut dipilah-pilah sesuai dengan kandungan damarnya, warnanya dan bentuknya.
4. Agar warna dari potongan-potongan kayu gaharu lebih tampak, maka potongan-potongan kayu gaharu tersebut dibersihkan dengan cara dikerok.
5. Serpihan-serpihan kayu gaharu sisa pemotongan dan pembersihan atau pengerokan, dikumpulkan kembali untuk dijadikan bahan pembuat abu gaharu.
Standard Gaharu
Selasa, Februari 03, 2009
Spesifikasi & Klasifikasi Gaharu
Spesifikasi Gaharu:
Gaharu dikelompokkan menjadi 3 (tiga) sortimen, yaitu gubal gaharu, kemedangan dan abu gaharu.
Klasifikasi Gaharu
1. Gubal gaharu dibagi dalam tanda mutu, yaitu :
b. Mutu pertama, dengan tanda mutu I, setara mutu AB.
c. Mutu kedua, dengan tanda mutu II, setara mutu sabah super.
2. Kemedangan dibagi dalam 7 (tujuh) kelas mutu, yaitu :
b. Mutu kedua, dengan tanda mutu II, setara mutu SB I.
c. Mutu ketiga, dengan tanda mutu III, setara mutu TAB.
d. Mutu keempat, dengan tanda mutu IV, setara mutu TGC.
e. Mutu kelima, dengan tanda mutu V, setara mutu M 1.
f. Mutu keenam, dengan tanda mutu VI, setara mutu M 2.
g. Mutu ketujuh, dengan tanda mutu VII, setara mutu M 3.
3. Abu gaharu dibagi dalam 3 (tiga) kelas mutu, yaitu :
b. Mutu pertama, dengan tanda mutu I.
c. Mutu kedua, dengan tanda mutu II.
(Standard Gaharu, Dephut)
Istilah-Istilah Gaharu
2. Damar gaharu adalah sejenis getah padat dan lunak, yang berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu, dengan aroma yang kuat, dan ditandai oleh warnanya yang hitam kecoklatan.
4. Kemedangan adalah kayu yang berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu, memiliki kandungan damar wangi dengan aroma yang lemah, ditandai oleh warnanya yang putih keabu-abuan sampai kecoklat-coklatan, berserat kasar, dan kayunya yang lunak.