Team Program 'Masjid Gaharu' Kota Depok

1.Ganif Aswoko , email: aswokoganif@gmail.com



2.Taqyuddin SSi MHum , email: taqygeo@gmail.com




Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, Februari 19, 2010

SEJARAH AWAL PERDAGANGAN GAHARU DI SUMATERA ( TERTULIS )

Dari keterangan I Tsing, musafir ziarah Budhis, kita ketahui beberapa berita penting mengenai kebudayaan dan perdagangan Sriwijaya. Dalam tahun 671 M ( kira kira tahun 10 H ), musafir itu berangkat dari kanton ke India muka. Pada pelayaran nya, ia sempat tinggal di Sumatera selama delapan bulan. Pada pelayarannya , I Tsing sempat tinggal di Sriwijara empat tahun lamanya ( 685 – 689 M ). Kemudian berangkatlah ia ke Kanton dengan maksud mencari empat orang pembantunya untuk meneruskan pekerjaannya dalam lapangan pengetahuan. Baru pada tahun 695 M ia meninggalkan Sriwijaya dan pulanglah ia ke Tiongkok. Dari dua buah buku besar tulisan nya, bahwa Sriwijaya pada masa jayanya menjadi pusat pengetahuan Budhis. Berabad abad lamanya hal itu berlangsung demikian. Biksu biksu Budhis tidak kurang dari seribu orang jumlahnya. Musafir musafir Tionghoa, yang berziarah ke India muka, seringkali menumpang kapal Melayu, dari Kanton sampai ke India muka. Dengan demikian, jelaslah Sriwijaya mempunyai Angkatan Laut sendiri. Begitu pula di buktikan, bahwa orang Melayu pada zaman itu mengambil bagian dari perdagangan ke India muka dan Tiongkok. Sebagai barang dagangan ada yang disebut: Kapur barus, Gaharu, Kayu Cendana, Cengkeh, Sirih, Pala, Lada, Emas, Perak, dan Timah putih. Oleh penulis penulis sejarah Tiongkok disebut sebut beberapa perutusan dari Sriwijaya ke Tiongkok.

Tulisan ini di kutip dari buku ”Sejarah Kebudayaan Sumatera” tulisan: ” Dada Meuraxa ”.
Terbitan Firma Hasmar Medan tahun 1974.